Dadi Saridji

Posted on 22 Maret 2011

0


 

 

 

 

 

 

 

Berbicara mengenai tokoh bola voli, maka nama Dadi Saridji tak mungkin terlewatkan. Sebagai pendiri Tectona, figurnya cukup disegani di kancah perbola-volian tanah air. Terlahir di Bogor 13 Februari 1939,  beliau besar di kota hujan itu dan kemudian melanjutkan serta menyelesaikan pendidikan tingginya di Jakarta. Tahun 1983 beliau pindah ke Bandung, dan bekerja di Perum Perhutani. “Saya sebenarnya ingin berkecimpung di dunia bisnis, tapi malah masuk administrasi dan tercebur di bola voli” ujarnya.

Berikut wawancara singkat antara wartawan Alko dengan Bapak Drs. H. Dadi Saridji di Bandung.

Alko (A) :  Bapak kan sudah lama berkecimpung di dunia voli, awalnya tuh bagaimana bapak bisa mencintai olahraga bola voli ini ??

P.Dadi (PD) : Ya pada dasarnya waktu masih muda dulu bapak main voli juga, suka ikut latihan tapi tidak atlet berprestasi. Berhubung postur bapak tidak seperti teman-teman yang lain, bapak lebih banyak berkecimpung di sepak bola. Kalau di sepak bola, prestasi lebih ada dibandingkan dengan voli. Pada tahun 1987, ada kejuaraan antar Kehutanan Seluruh Indonesia.

Berhubung tidak ada pertandingan sepak bola, Bapak terus ditunjuk oleh salah satu perusahaan sebagai Koordinator dan wakil manager voli. Ternyata di voli itu ada daya tarik tersendiri. Yang jelas di voli tidak ada kles (red: perselisihan) antar pemain. Tidak seperti sepak bola yang ada adu fisiknya.

 

A : Ceritain dong Pak awal mula nama klub Tectona, yang sebelumnya bernama Perhutani?

PD : Pada tahun 1987 awal terbentuknya klub voli Perhutani. Klub ini masuk menjadi anggota Ivoba pada tahun 1988. Kalo ALKO malah sudah lebih dulu. Tahun 1988 sampai 2002, penyandang dananya masih Perhutani. Pada tahun 2003 dananya sudah tidak memungkinkan, dari pihak Perhutani mengatakan, ”Pak Dadi ini gimana? Mungkin Perhutani tidak bisa melanjutkan! Mau dibubarkan atau tidak ?” Karena Bapak yang mendirikan klub Perhutani ini, jadi tidak akan bapak bubarkan. Kemudian semuanya diserahkan sama Bapak. Perhutani tidak lagi bertanggung jawab (dalam arti kata hubungan kelembagaan), tapi di luar itu masih membantu. Pada saat itu Bapak berpikir nama klub ini akan diganti jadi apa? Diharapkan bukan lagi nama perusahaan, tapi ada nama nuansa kehutanannya. Akhirnya terpilih nama TECTONA, dari bahasa Latin yang artinya KAYU JATI. Karena produk terbesar dari Perhutani itu adalah kayu jati. Kemudian karena semakin banyaknya anak-anak muda ingin berlatih voli jadi bapak mendirikan lagi klub di bawah naungan TECTONA, yaitu SILVAS yang artinya Hutan dalam bahasa Latin.

A : Sebagian besar dana untuk pembinaan klub ini sendiri dari Bapak, atau ada relawan-relawan lain yang ikut menyumbang?

PD : Yang jelas tidak sepenuhnya dari Bapak. Pada tahun 1970, Bapak mendirikan klub Sepak Bola di Jakarta. Dan sebagian anak didik bapak sudah menjadi “orang”. Kemudian ada yang ingin membalas budi terhadap Bapak dulu, mereka ikut membantu menyumbang dana.

A : Pandangan Bapak terhadap perkembangan dunia voli di Jawa Barat ini gimana?

PD : Kalau berbicara Jabar, Bapak lebih melihat ke Kota Bandung. Karena gudangnya pemain voli itu di Kota Bandung, mau gak mau! Terutama putri. Kalau putra di daerah lain pun masih banyak. Sayangnya di daerah lain pembinaan itu tidak merata. Kalau di daerah, masih kurang pembinaannya. Jadi para pemain pada pindah ke Bandung, karena mereka menikmati latihan di Bandung. Bisa dilihat dari PORDA JABAR 2010 kemarin. Banyak atlet Bandung yang memperkuat daerahnya. Jadi yang bisa dilihat dari Jabar; yang pembinaannya cukup bagus yaitu Kota Bandung, Kota Bekasi dan Cirebon. Ada di daerah lain juga, namun sifatnya insidentil.

A : Bagaimana pandangan Bapak terhadap klub bola voli ALKO?

PD : Klub ALKO itu sangat Bapak hormati. Karena begitu Bapak terjun di dunia voli, ALKO sudah ada. Karena memang dari dulu atlet putri ALKO sangat luar biasa. Dan banyak pemain Nasional berasal dari ALKO, seperti Eka Yulianti dan Ida Nursanti. Kalau putra memang belum terlihat secara signifikan. Dalam perkembangannya, setiap organisasi pasti ada turun naiknya. Tapi sekarang Bapak lihat ALKO lagi naik. Apalagi dengan adanya ketua umum baru yaitu Bapak Hendra. Tidak ada klub yang mempunyai GOR di lantai V dengan lima lapangan pula. Jangankan di Bandung, di Indonesia pun belum ada. Bapak men-support ALKO, baik sebagai pengurus klub ataupun sebagi Pengda. Mudah-mudahan berlanjut terus, maju ALKO!

A : Sampai kapan nih Bapak asyik berkecimpung di dunia voli?

PD : Sampai akhir hayat dikandung badan. Mudah-mudahan Tuhan memberi umur yang panjang. Karena Bapak di dunia voli ini hanya mencari  hiburan. Tapi banyak kok suka dukanya. Seperti menyeleksi buat KEJURNAS dan lain-lain.

A : Ngomong-ngomong, ada anak atau sanak saudara Bapak yang berkecimpung di dunia Voli juga?

PD : Anak Bapak kebetulan “KUTU BUKU” semua, jadi gak ada yang atlet. Kebutulan semuanya sudah berkeluarga, jadi ada cucu bapak yang ikut voli. Bapak berharap cucu Bapak yang bisa menjadi atlet berprestasi.

A : Keluarga mendukung kecintaan Bapak terhadap bola voli ini enggak?

PD : Lebih dari mendukung, mereka luar biasa!

 

sumber: http://www.alkobandung.com/index.php?option=com_content&view=article&id=67:dadi-saridji&catid=14:tokohvoli&Itemid=53

Posted in: Tokoh